top of page

Tanya Jawab Expert

Publik·

Bismillah... Qadarullah ibu mertua saya suka menceritakan kejelekan/kesalahan suami saya kepada saya dan juga saat suami berbuat salah beliau sempat mengungkit2 kebaikannya kepada suami saya. Karena hal2 tersebut saya menjadi kurang nyaman dalam berkomunikasi dengan beliau, semakin lama saya malah menjadi sulit untuk bisa dekat/berkomunikasi dengan baik terlebih hubungan suami dan ibunya itu kurang ada kedekatan. Apakah salah jika menjaga jarak?Bagaimana sebaiknya saya harus bersikap? Jazakillahu khayr


Pertanyaan oleh Ummahat_974

Jawaban:


Dijawab oleh Rizki Setyasri, M.Psi., Psikolog


Assalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh kak, Terima kasih ya telah berbagi bersama kami Tidak nyaman sekali ya kak, rasanya saat ada hal-hal yg kurang cocok terjadi dg orang terdekat kita.


Memang saat kita mereaksi suatu situasi, terkadang kita dalam tiga kondisi ya kak, pertama fight, kedua flight, dan yang ketiga freeze. Ada kalanya kita dapat menghadapi suatu situasi dengan berani dalam menjalani tantangannya meski terasa tidak nyaman, ini yang disebut dengan fight.


Namun ada kalanya juga kita merasa tidak nyaman dalam suatu situasi, sehingga memilih untuk menghindari situasi tersebut, inilah yang disebut sebagai flight. Sedangkan yang ketiga, ketika kita menghadapi suatu situasi yang sangat tidak terduga, kita terkejut dan tidak tahu apa yang musti dilakukan sehingga yg terjadi hanya terdiam tanpa melakukan apapun, inilah yang disebut freeze. Ketiganya, baik fight, flight, dan freeze sama diperlukannya bagi kita untuk menghadapi suatu situasi dengan baik.


Adanya kalanya dalam memeriksa relasi kita dg orang terdekat kita diperlukan juga untuk ambil jeda, guna memberi ruang bagi kita agar dapat mencerna, memaknai, merasakan apa yg sebenarnya sedang kita rasakan, apa yg sebenarnya terjadi pada relasi kita, dan hal terbaik apa yg saat ini bisa kita usahakan ya kak.


Mengambil jeda diperlukan untuk menata hati, pikiran, dan sikap kita kedepannya dg mengambil sedikit jarak dg permasalahan yg sedang kita hadapi, agar pandangan kita lebih netral dalam menghadapinya ya kak, Namun, mengambil jeda, atau mengambil jarak ini berbeda dg menghindari permasalahan ya kak, sebab jika tersu menerus menghindar masalah, kondisi kita mungkin memang membaik untuk sesaat, namun tanpa menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga dikemudian hari berpotensi muncul lagi bahkan dalam bentuk yg lebih besar. Oleh karenanya, kita tetap perlu belajar menghadapinya secara bertahap ya kak.. Semoga Allah mudahkan prosesnya ya kak..


Langkah awal yg dapat kita lakukan ialah mengenali dulu ya kak, apa sih yg sebenarnya kakak rasakan, apa yg sebenarnya membuat kakak terganggu setiap kali beliau menceritakan kejelekan/kesalahan suami. Apa yg membuat sikap beliau begitu mengganggu kakak, mungkin karena kakak tidak setuju dg sikap tersebut, atau mungkin karena kakak tidak terima ketika suami kakak diceritakan kejelekannya. Setelah mengenali apa perasaan yg muncul, kakak boleh menamai perasaan tersebut, mungkin marah, kecewa, tidak terima, merasa direndahkan atau yg lainnya. Setelah kakak menyadari dan mengenali emosi yg kakak rasakan, harapannya, kakak lebih dapat mengendalikan diri saat berinteraksi dg ibu mertua.


Kemudian baru perlahan kita berlanjut pada tahap berikutnya, yaitu mencoba membangun hubungan baik dg ibu mertua dan meletakkan segala penilaian dan pendapat kita mengenai beliau. Perlahan kita coba lagi memahami sudut pandang dari sisi beliau, apa ya yg sekiranya membuat beliau bersikap demikian?


Kapan atau disaat seperti apa biasanya, kebiasaan tersebut beliau lakukan? saat merasa kecewa dg suami kah? atau saat beliau memerlukan apresiasi atas jasa-jasa beliau yg telah dilakukan selama ini, atau mungkin saat beliau lelah atau bosan, atau mungkin saat sebenarnya beliau memerlukan bantuan. Bisa jadi beliau melakukan hal tersebut semata karena memerlukan teman berbagi mengenai apa yg sebenarnya beliau rasakan dan mungkin beliau melihat kakak sebagai tempat yg aman untuk berbagi keluh kesah.


Setelah kita coba untuk memahami perasaan beliau, selanjutnya kita coba untuk konfirmasi dan validasi perasaan beliau ya kak, "Mama kecewa ya sama sikap akang", "Mama belum bisa melupakan kesalahan akang yg itu ya?", hal ini diharapkan ibu mertua merasa didengarkan dan dipahami sehingga secara bertahap dapat berkurang kebiasaan tersebut.


Selain itu, jika memungkinkan untuk dilakukan ialah dg mengomunikasikan apa yg kakak rasakan kepada beliau melalui i-messege. Kakak dapat menyampaikan terlebih dahulu apa yg sebenarnya kakak rasakan, pada situasi tertentu, dalam hal ini ketika kakak mendengar beliau menceritakan kejelekan suami kakak, kemudian sampaikan pula apa yg menjadi harapan kakak kedepannya.


Dan apabila penyampaiannya dilakukan sekaligus dg pembicaraan sebelumnya, kurang lebi menjadi, "Mama masih kecewa ya dg sikap akang yg itu, rasanya masih sulit untuk dimaafkan ya ma, Tapi maaf ma, saya sebagai istri akang merasa kurang nyaman setiap kali mama menceritakan kejelekan akang, saya merasa semestinya sebagai seorang istri menghargai dan menjaga aib suami, kedepannya saya harap kita doakan akang saja ya ma, tiap mama teringat kesalahan akang, semoga ampunan Allah Yang Maha Luas, kelak mengampuni segala kesalahan dan kejelekan akang ya ma". Tentu saja dalam penyampaiannya kita perlu berhati-hati ya kak, perlu memahami betul kondisi kita apakah sedang memungkinkan untuk menyampaikannya dg santun, dan kondisi ibu mertua apakah sedang memungkinkan untuk kita ajak bicara dg baik.


Begitu pun sebaliknya, kakak dapat menanyakan pula apa yg sebenarnya beliau rasakan dan apa yg sebenarnya menjadi harapan beliau saat menceritakannya kepada kakak, apakah mengharapkan solusi, atau bantuan untuk menyampaikan pada suami. Bisa juga dg bekerjasama dg ibu mertua, apa ya ma yg sekiranya saat ini bisa kita lakukan untuk memperbaiki kejelekan atau kesalahan beliau?


Langkah selanjutnya yg tidak kalah penting adalah membangun hubungan baik dg suami kakak. Karena biar bagaimanapun kakak dan suami ialah tim inti yg sebaiknya saling menguatkan dan mendukung ketika salah satu atau mungkin dalam keluarga, yaitu dalam hal ini keluarga inti yg kakak bangun bersama suami tengah mendapatkan permasalahan atau intervensi dari pihak luar. Kakak dapat memulainya dengan memperbanyak waktu bersama dan secara bertahap mencoba untuk bicara dari hati ke hati Apa yg sebenarnya kakak alami setiap berinteraksi dg ibu mertua, apa yg kakak rasakan, dan begitupun sebaliknya, mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi diantara beliau berdua, bagaimana tanggapan suami kakak tentang hal itu dan langkah apa yg sekiranya dapat dilakukan serta mungkin bantuan yg diharapkan dari kakak yg sekiranya dapat dilakukan


Dan terlebih dari semua bentuk ikhiar yg kita usahakan, hal yg paling utama ialah mohon pertolongan kepada Allah ya kak, Semoga Allah senantiasa melembutkan hati dan lisan kita, Semoga Allah mampukan dan naikkan derajat kita melalui ujian yg perlu kita lalui ini. Jika kondisi yg dialami kakak tidak juga kunjung membaik, kakak boleh membuka diri dg meminta bantuan profesional kepada psikolog maupun konselor pernikahan ya kak.. Semoga membantu dan Salam Hangat.


Pertama kali diunggah 2023-05-11T17:13:00.478Z

좋아요

Tentang

Kumpulan tanya jawab dengan Psikolog dan Konselor Qalboo. Q...
bottom of page